Home / Nasional

Minggu, 29 Desember 2019 - 12:36 WIB

Yuk! Berkunjung Ke Rumah Rasulullah, Sang Referensi Terbaik Umat

Ini yakni perjalanan syar’i kita untuk “berkunjung” ke kediaman Rasulullah saw, Sang suri tauladan terbaik umat manusia.

Ini yakni sebuah “Kunjungan” untuk melihat seluk beluk kehidupan dan tata krama pergaulan Rasulullah saw, sehingga kita sanggup meneladani dan mempraktekannya dalam kehidupan kita dikala ini.

Ini yakni perjalanan dan kunjungan kita sebagai umat Islam, melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari verbal para sahabat.

Perjalanan ini dimulai dengan……

melewati ruang dan waktu, kita kembali ke 14 masa silam. Tidak ada Hp, tidak ada TV, tidak ada motor, kendaraan beroda empat dan kecanggihan alat lainnya..

Kita menuju ke sebuh kota yang berjulukan Al-madinah AnNabawiyah. Dari kejauhan mulai terlihat bangunan-bangunan kota. Mulai terlihat terperinci sebuah bangunan persegi yang menjadi sentra acara umat Islam, itulah Masjid Nabawi.

 Sang suri tauladan terbaik umat insan Yuk! Berkunjung Ke Rumah Rasulullah, Sang Teladan Terbaik Umat

Di samping masjid itu, terdapat sebuah bangun kecil sederhana, dengan banyak sekali isinya yang sederhana pula, inilah kediaman Rasulullah saw. Inilah sebuah rumah yang mengekpresikan siapa pemiliknya.

Rasulullah saw, sang nabi dan rasul terakhir umat manusia, membawa pedoman utama yaitu untuk menyempurnakan Akhlak manusia. Dialah suri tauladan terbaik umat manusia.

Beliau yakni yang paling zuhud terhadap dunia. Beliau tidak sekalipun menolehkan pandangan kepada kemewahan dan gemerlap harta benda dunia.

Beliau berkomentar ihwal dunia yang fana ini: 
“Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah
bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di
panas terik matahari, kemudian berteduh di bawah naungan
pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya
untuk kembali melanjutkan perjalanan.” (HR. At-Tirmidzi) 
 Sang suri tauladan terbaik umat insan Yuk! Berkunjung Ke Rumah Rasulullah, Sang Teladan Terbaik Umat

Rumah dia hanya berupa kamar-kamar untuk para Istri berbentuk sederhana yang dibangun dari watu yang tertata dan diolesi dengan tanah liat, Atapnya terbuat dari pepelah kurma. Kamar-kamar itu tidak begitu tinggi sehingga seseorang sanggup menjangkai atap rumahnya.

Kita kemudian, berjalan ke arah rumah Rasulullah dan hasilnya kita menemui Rasulullah saw. Kita menatap Rasulullah yang tampan wajahnya bundar bagikan rembulan, luhur kebijaksanaan pekertinya, dengan tinggi yang pas, tidak pendek dan tidak terlalu tinggi. Perawakan dia sangat indah dipandang, dengan dada yang bidang dan lebar, rambut dia terurai hingga ke bab bawah telinga. Saat kita bersalaman, tangannya terasa lembut dan hidung kita akan mencium aroma bacin yang sangat harum.

Saat kita berbincang dengan Rasulullah saw, dia berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang terperinci dan terang lagi gampang dihafal oleh orang yang mendengarnya. Beliau yakni seorang yang rendah hati lagi lemah lembut. Saat berbicara kepada seseorang, dia selalu memperhatikan tingat intelektual dan pemahaman orang itu dalam berkomunikasi.

Semua sifat dan budpekerti kebaikan terkumpul pada diri Rasulullah saw. Beliau yakni penyantun dan penyabar. Setiap tutut katanya tersusun dalam kalimat yang rapi sehingga gampang dipahami orang yang mendengarnya.

Suatu ketika Seorang pria tiba menemui Rasulullah . Beliau
mengajak pria itu berbicara sehingga membuatnya
menggigil ketakutan. Rasulullah berkata kepadanya:
“Tenangkanlah dirimu! Sesungguhnya saya bukanlah
seorang raja. Aku hanyalah putra seorang wanita
yang biasa memakan dendeng.” (HR. Ibnu Majah)

Umatku..umatku…umatku..!!!
Itulah kata-kata terakhir Rasulullah yang membuktikan begitu cintanya Rasulullah kepada umatnya.

Beliau yakni orang yang paling mengkhawatirkan umatnya. Ingatlah Ketika Rasulullah melaksanakan Isra’ Mi’raj untuk mendapatkan perintah Shalat, awalnya kewajiban shalat yang diperintahkan yakni 50 kali sehari, namun Rasulullah terus memohon kepada Allah swt untuk meringankan kewajiban utama umatnya ini sehingga hasilnya hanya diwajibkan 5 kali sehari.

Rasulullah selalu berhati-hati dalam tutur katanya dan tindakannya biar tidak menjadi syariat yang memberatkan umatnya. Rasulullah menginginkan biar kita, umatnya ini sanggup masuk nirwana semuanya. Kelak di hari final zaman ketika hari kebangkitan tiba, di padang mashsyar, Rasulullah menjadi orang yang paling sibuk. Ketika semua orang meninggalkan dan tidak peduli kepada orang lain. Ketika bapaknya, ibunya, istrinya, anaknya, saudaranya, tidak peduli padanya, Rasulullah yang akan menolong dan memberi syafaatnya atas izin Allah swt.

Silahkan Anda Download EBOOK iniSEHARI DI KEDIAMAN RASULULLAH SAW

Share :

Baca Juga

Nasional

Kerja Bakti di Kelurahan Makassar, Anies Pastikan Hanya 15 Persen Wilayah Jakarta Terdampak Banjir

Nasional

Kolaps karena Jantung, Istri Adian Napitipulu: Masih Observasi, Terima Kasih

Nasional

Banyak Keuntungan Diperoleh PNS Jika Kerja dari Rumah

Nasional

Awal Bagus, Hendra/Ahsan Lolos Final Hong Kong Open 2019

Nasional

Bicara di Paripurna, Mikropon Ketua DPRD Sulsel dan Anggotanya Tiba-tiba Mati

Nasional

Tokoh Nasional Sambangi KPK, Ajukan Judicial Review UU Nomor 19 Tahun 2019

Nasional

Umpat FPI, Ade Armando Bakal Dilapor ke Bareskrim

Nasional

Gambar Kartun Muslimah Cantik