Home / Islam

Kamis, 23 April 2020 - 13:16 WIB

Seiring Kemajuan IT, Apakah Shalat Berjamaah Sah Dikerjakan Secara Online?

Tangerang Selatan – Kemajuan teknologi informasi atau IT (Information Technology) ternyata turut memberi peluang terbukanya celah dalam masalah keagamaan yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan. Di antaranya mengenai akad atau transaksi, mulai dari akad jual beli suatu barang hingga masalah akad nikah.

Misalkan, jika sebelumnya, secara umum, menurut ketentuan fikih yang tertuang dalam kitab-kitab ulama terdahulu saat proses akad antara penjual dengan pembeli harus berhadapan, belakangan bisa dilakukan secara terpisah namun ketentuan yang menjadi sarat sahnya dapat dipenuhi. Tidak asing lagi, di era digital ini transaksi jual beli online dengan memanfaatkan kemajuan IT sedang menjadi trend dunia perdagangan.

Begitu juga dalam akad nikah. Jika sebelumya antara calon suami dengan wali dan sejumlah saksi harus berhadapan atau berada dalam satu ruangan, belakangan bisa dilakukan dengan ruangan terpisah (jarak jauh) namun tetap berhadapan secara audio visual dalam waktu yang bersamaan. Semua yang terlibat seolah berada di ruangan yang sama sehingga hal-hal yang menjadi persyaratan sahnya tetap terpenuhi.

Lantas bagaimana dengan shalat berjamaah, apakah bisa juga dilakukan secara virtual atau online? Terkait hal ini Pengasuh Ponpes Ummul Qura, Tangerang Selatan, KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, memberikan satu telaah akan kebolehannya. Paparan ini menyusul segera tibanya bulan suci Ramadhan, di mana pemerintah dan mayoritas ulama menyerukan shalat Tarawih di rumah masing-masing. Sementara sebagian kaum muslimin ada yang tetap ingin shalat Tarawih berjamaah –sebagaimana pula shalat Jumat yang diganti dengan shalat Dhuhur.

Menyikapi dualisme tersebut, saat mengisi acara Tarhib Ramadhan dan Tangsel Berdzikir Lawan Covid-19 di Kantor Walikota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (21/4/2020), Kiai Syarif menyampaikan pandangannya sebagai jalan tengah. Yakni, shalat Tarawih berjamaah atau shalat Jumat masih mungkin bisa dilakukan, hanya saja tidak harus dalam satu tempat atau satu masjid, namun dengan cara memanfaatkan aplikasi semacam video converence sebagai teknis berjamaahnya. Semisal menggunakan aplikasi ‘Zoom’ yang saat ini banyak digunakan untuk pengajian berjamaah secara virtual.

Baca  Masya Allah, Ini Waktu Terbaik Bersedekah; Pahami dan Amalkan!

“Saya mencoba memberikan pemikiran barangkali bisa dijadikan bahan diskusi… Ada yang menarik. Ketahuilah bahwa perkembangan zaman menghendaki kita berubah dalam ‘syakal’ tapi tidak berubah dalam menjalankan ibadah. Tidak ada ibadah yang hilang, yang ada perubahan syakalnya saja. Bagaimana kalau shalat Tarawih (berjamaah) tetap diadakan? Bagaimana kalau shalat Jumat diadakan? Bisa! Teknisnya yang berubah,” ungkap Kiai Syarif lalu melanjutkan.

“Saya menemukan satu Hadits. Ada yang menarik. Selama ini, orang kalau shalat berjamaah itu biasanya berkumpul di satu masjid; berkumpul di satu mushalla. Tapi ada celah yang dibuka oleh Rasulullah SAW…”

Kiai Syarif lalu membaca Hadits dalam Kitab Shahih Al-Bukhari. Yakni, pada bab yang mengurai tentang rentang jarak atau adanya pembatas antara imam dengan jamaahnya. Di mana, penjelasan dalam bab ini mengisyaratkan kebolehan atau sahnya shalat berjamaah dengan jarak yang jauh atau adanya pembatas antara imam dengan makmum. Sehingga, membuka celah bolehnya melaksanakan shalat berjamaah dengan teknis menggunakan aplikasi semacam Zoom. Sebagaimana diketahui, aplikasi ini menjadi media pertemuan atau perjamaahan secara virtual audio-visual.

Adapun penjelasan dalam kitab tersebut antara lain menegaskan, “Tidak masalah kamu shalat di tempat yang terpisah di mana antara kamu dengan imam dipisahkan oleh sungai…”

Baca  Resepsi Nikah Online Jadi Tren Baru di China di Tengah Corona

Kemudian, pada keterangan berikutnya dijelaskan, “Boleh shalat berjamaah dengan imam sekalipun antara imam dengan dia dibatasi oleh jarak atau dinding selama dia (makmum) mendengar suara takbir imam…”

Dari uraian dalam Shahih Bukhari, Kiai Syarif lalu mengelaborasikan dengan uraian dalam Kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam An-Nawawi Ad-Dimasyqi, tepatnya pada juz 4 halaman 265.

Ringkasannya dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa menurut jumhur ulama dikatakan, bahwa shalat berjamaah yang dikerjakan di luar masjid posisi antara imam dengan makmum tidak boleh terlalu jauh. Sementara itu, Imam Syafi’i menjelaskan rentang jarak antara imam dengan makmum menggunakan ukuran yang lebih jelas. Yakni jarak antara imam dengan makmum tidak boleh lebih dari 300 hasta. Sedangkan menurut Imam Atha’ posisi antara imam dengan makmum boleh berjauhan meskipun jaraknya sampai satu mil.

KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA saat menyampaikan ulasannya, disaksikan Walikota Tangsel Hj Airin Rachmi Diany, SH, MH, KH Kholisuddin Yusa, SQ, dan sejumlah tokoh dan para ulama

Di sisi lain, ada dua hal penting mengenai ketentuan jarak dan posisi antara imam dengan makmum. Pertama, makmum dapat mendengar suara takbirnya imam. Kedua, posisi imam harus berada di bagian atau tempat paling depan –ke arah kiblat.

Terkait dua hal di atas, Kiai Syarif mengatakan, bahwa kata “mendengar” selama ini umumnya diartikan secara fisik semata. Namun seiring perkembangan teknologi, kata “mendengar” di sini memungkinkan adanya perubahan pengertian. Artinya, bukan saja mendengar secara langsung dari lisan imam, namun juga mendengar melalui alat bantu dengar semisal pengeras suara, ataupun dengan teknik aplikasi virtual seperti disebut di atas. Sebagai pembanding, Kiai Syarif mencontohkan akad jual beli atau akad nikah yang sekarang ini banyak memanfaatka kemajuan teknologi –seperti telah disitir di atas.

Baca  Apakah Wajar Mengikuti Arahan Pemerintah Supaya Tidak Salat Berjamaah? Ini Jawaban UAS

Merujuk pada keterangan dua kitab di atas, serta dua ketentuan sebagai syarat sahnya shalat berjamaah, yakni posisi imam berada di tempat paling depan dan makmum masih mendengar suara takbirnya imam, Kiai Syarif mengajak segenap ulama mendiskusikan hasil telaahnya itu. Ajakan tersebut tentu saja sebagai upaya untuk memecahkan masalah peribadatan ummat Islam di masa darurat wabah seperti saat ini.

Menarik memang. Jika mengamati dua keterangan dalam Shahih Al-Buhkari tadi serta pendapat Imam Atha’ dalam Al-Majmu’ yang memperbolehkan jarak imam dengan jamaah sampai satu mil, agaknya shalat berjamaah bisa dilakukan dengan teknis seperti yang diajukan oleh Kiai Syarif.

Nah, apabila hal itu mendapat persetujuan para ulama yang memang ahli di bidangnya, tentu saja shalat berjamaah secara virtual akan menjadi jalan tengah di tengah mewabahnya penyakit yang membuat kaum muslimin tidak bisa berjamaah seperti biasanya demi memutus mata rantai sebaran virus penyakit yang dimkasud. (SM)

———–
Keterangan
Lebih rinci tentang uraian Kiai Syarif seperti diulas dalam artikel ini, bisa ditonton di kanal YouTube PADASUKA TV. Judul: “Kabar Gembira Shalat Tarawih Online Syah. Gmn Caranya? KHR Syarif Rahmat”

Share :

Baca Juga

APAKAH UAS ADA RENCANA MENIKAH LAG-min

Islam

Saat UAS Ditanya, Apa Sudah Ada Rencana Nikah Lagi? Ini Jawaban UAS

Islam

Baru! Begini Cara Urus Jenazah Seorang Muslim Pasien Corona Menurut Fatwa MUI

Islam

Dosen Katolik Ini Akui Kebenaran Nabi Muhammad saw soal Mencegah Corona

Islam

“Corona Tentara Allah”, Begini Penjelasan UAS

Islam

Awas! Ancaman Pandangan Mata Dapat Mencelakai Orang Lain

Islam

PBNU; Qunut Nazilah Insya Allah Bisa Mencegah Wabah Corona

Islam

Fatwa MUI Terkait Wabah Corona, Ternyata Perintah Langsung dari Wakil Presiden, Ma’ruf Amin

Islam

Salah Satu Tanda Kiamat Ketika Manusia Tidak Malu Berbuat Begitu di Jalanan. Naudzubillah!