Home / Inspiratif

Jumat, 13 Maret 2020 - 06:23 WIB

Saat Wabah Melanda, Sahabat Nabi saw, Amr bin Ash Isolasi Negeri Syam

Corvid-19, isolasi kota, karantina, kepemimpinan. Dan belakangan muncullah nama Amr bin Ash. Bermula beberapa netizen membagikan potongan salah satu kajian bersama Ustad Budi Ashari, Lc, ulama pengasas Kuttab Al Fatih yang juga pakar sirah nabawiyah. Tema kajian utuhnya tentang bagaimana Islam memandang kecerdasan.

Nama Amr bin Ash disebut-sebut karena ide isolasi atau karantina pada kawasan yang didera penyakit akut. Kala itu Syam dilanda penyakit tha’un, dengan Umar bin Khathab yang bertindak sebagai khalifah di Madinah. Tukar gagasan Umar dan Amr bin Ash inilah yang berujung mencuatnya ide karantina berbasis kota. Dan hasilnya, ide Amr ampuh. Atas izin Allah.

Menarik, Muslimin membicarakan Amr bin Ash dan seolah melupakan bagaimana sikap mereka padanya dalam peristiwa tahkim dengan diplomat Khalifah Ali bin Abi Thalib beberapa tahun kemudian. Dan memang semestinya kita menempatkan para shahabat dalam kedudukan proporsional, dengan melihat mereka sebagai manusia juga. Termasuk pada diri Amr bin Ash. Beban kisah tahkim seyogianya dicukupkan untuk menilai kedudukan lain shahabat ini.

Amr bin Ash dikenal sebagai sahabat yang cerdas. Di luar Nabi Muhammad, ujar beliau, ada ungkapan bahwa Muslim cerdas di kalangan bangsa Arab ada empat: Amr bin Ash; Muawiyah bin Abu Sufyan; Mughirah bin Syu’bah; Ziyad bin Abih.

Tiga nama pertama adalah sahabat Nabi. Nama terakhir seorang tabi’in. Dalam tiap masalah, mereka secara cepat membuat putusan efektif dan—pada akhirnya—mengubah sejarah. Semisal Amr bin Ash, selain kejadian tha’un, adalah buah kecohannya terhadap Khalifah Umar bin Khathab, yang ujungnya membuka penaklukan Afrika dan merintis generasi berikutnya untuk menyeberang ke jazirah Eropa.

Keempat nama itu, menariknya, sering dipandang miring bahkan oleh Muslimin sendiri. Dari rahim Ahlus-Sunnah saja, sebagai contoh, menuding nama-nama itu—khususnya Muawiyahdan dan Amr bin Ash—sarat ambisius. Jangan tanya bagaimana gemuruh sarjana kampus Islam negeri di sini mencacat nama-nama tadi, lagi-lagi, khususnya Muawiyah dan Amr bin Ash.

Itulah masa kegemilangan; bukan dibayangkan belaka, apalagi buat disesali karena kini berbeda jauh yang diterima umat. Ini tentang perlunya memeluk ingatan bagi perjuangan esok. Termasuk perjuangan para pendahulu kita dengan berbilangan legasi bagi generasi berikutnya, seperti kecerdasan para pemimpin politik. Selalu aktual untuk memetik hikmah mereka.

Itulah pesona misykat yang niscaya di hati merambat. Pada Amr bin Ash; Muawiyah bin Abu Sufyan; Mughirah bin Syu’bah; Ziyad bin Abih, seyogianya kita menaruh respek. Respek yang tak tutupi sikap objektif pada segi lainnya, semisal pandangan politiknya tugas kita bukan buat “membersihkan” orang-orang mulia itu, sebagaimana juga bukan untuk mencercanya sepanjang waktu.

Cukuplah kita belajar eksperimen memilih pemimpin dengan mengangkat orang tak cakap sama sekali hanya gegara pikatan tampilan bersahaja polesan media. Kita lupa bagaimana Rasulullah tak memberi jabatan pada Abu Dzar, padahal kurang saleh apa shahabat ini? Kita benci orang yang bersedia memimpin hanya karena dianggap cari panggung. Padahal, dia sesungguhnya memiliki takdir buat memimpin.

Semoga dari pandemik corona ini ibrah kepemimpinan merasuk ke jiwa rakyat kita. Agar yang kapasitasnya cuma jelata dan awam bisa ukur diri. Agar yang jahil bisa kaca diri.

Oleh: Yusuf Maulana*
*) Kurator buku lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta; penulis buku “Mufakat Firasat”, dan “Nuun, Berjibaku Mencandu Buku”.

Share :

Baca Juga

Inspiratif

Curhat Dian, Perawat Positif Corona: Hanya 15 Menit Langsung Tertular

Inspiratif

Ternyata Ibu UAS Pernah Curiga Sang Ustadz Pelihara Jin

Inspiratif

Nenek 90 Tahun; Mandiri, Tetap Berjualan di Emperan Toko Sambil Mengaji

Inspiratif

Injil Asli Ditemukan, Isinya Menjelaskan Isa Tidak Disalib dan Membenarkan Nabi Muhammad saw

Inspiratif

Cerita Pasien Corona di Malaysia: Saya Sangat Kesakitan dan Mengira Akan Mati

Inspiratif

Viral! Istri Tukang Ayam Belikan Mobil Mewah Rp 800 Juta untuk Suami

Inspiratif

Mengenal Yanti; Wanita Penyelamat Harimau Sumatera

Inspiratif

Mengharukan! Saat Corona Mewabah, Penjual Sate Bagi Sembako ke Ojek Online