Home / Kesehatan

Rabu, 29 April 2020 - 08:38 WIB

Perjuangan Dokter Tangani Pasien Corona Akui Sempat Demam, Lelah dan Stres

Pekanbaru – Meski sudah puluhan tahun menjadi dokter, Rohani sempat menghadapi stres saat pertama menangani pasien yang diduga terserang Covid-19. “Saya kelelahan. Sempat demam waktu pertama kali karena mungkin stres karena (wabah) ini baru meledak. Saya demam beberapa hari, batuk-pilek,” kata dokter spesialis paru-paru itu.

Virus corona menyebar cepat di Pekanbaru, yang kini sudah masuk dalam zona merah penularan Covid-19. Pasien terus mengalir ke ruang isolasi rumah sakit.

Bersama tenaga medis lainnya, Rohani selama berjam-jam harus menjalankan tugas merawat pasien dengan mengenakan alat pelindung diri di tiga rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Tiga RS rujukan itu adalah Rumah Sakit Syafira, Rumah Sakit Prima, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madani Pekanbaru.

Baca  Mantap! Bertambah 285, Pasien Corona Sembuh Terbanyak Hari Ini

Ttenaga kesehatan harus selalu berhubungan dengan pasien untuk memberikan perawatan maupun konsultasi. Kondisi yang demikian membuat tenaga medis seperti Rohani rentan tertular virus corona.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), per 28 April 2020 sudah ada 40 tenaga kesehatan yang gugur dalam tugas berat menangani Covid-19. Rohani pun pernah harus menjalani isolasi di rumah sakit sebagai pasien yang diduga terserang Covid-19.

“Saya sempat diisolasi, sempat merasakan isolasi seperti pasien lainnya,” kata dia menambahkan. Selama isolasi, dia berusaha meningkatkan daya tahan tubuh agar cepat pulih.

Ia bersyukur hasil pemeriksaan menunjukkan dia tidak terserang virus corona sehingga bisa melanjutkan panggilan tugas untuk menangani pasien Covid-19. “Saya langsung terjun lagi, balik kerja lagi. Karena kita kekurangan tenaga dokter, di mana-mana kurang tenaga kesehatan,” katanya.

Baca  DPR Restui Kemenag Pakai Dana Haji APBN untuk Atasi Corona

Setelah mengalami masa karantina, Rohani menjadi lebih mudah memosisikan diri dalam menangani pasien yang stres saat pertama kali masuk ke ruang isolasi. “Ada beberapa pasien sampai mau lari, buat tingkah, enggak mau makan. Kita sedang diuji sabar kita menghadapi mereka. Karenanya harus memosisikan seandainya kita di posisi mereka,” kata dia.

Rohani bersyukur keluarganya terus mendukung meski waktunya kini terkuras untuk menangani pasien. “Walau ada kekhawatiran, kita saling menjaga, saling menguatkan,” katanya.

Selama bertugas menangani pasien Covid-19, Rohani juga mendapat banyak saudara. “Setelah pasien pulang, mereka ucapkan terima kasih sampai luar biasa, padahal memang itu tugas kita. Jadi, mereka sering Whatsapp ke perawat dan dokter, ucapkan terima kasih karena berpekan-pekan sama kita, ya jadi seperti keluarga jadinya,” kata Rohani.

Baca  Trump Bersumpah Bakal Buat China Tanggung Jawab soal Corona

Sampai sekarang jumlah pasien yang menjalani perawatan terkait penularan Covid-19 masih meningkat di Pekanbaru. Rohani bersama tenaga medis dan paramedis berusaha sebaik mungkin untuk mendukung penanggulangan wabah.

Dia hanya berharap setiap warga secara sadar mau tetap berada di rumah dan menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona agar wabah segera berakhir. “Mereka yang di rumah itu pahlawan sebenarnya,” ujar dia. (rep)

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Biaya Perawatan Pasien Corona di RS Swasta Hingga Rp500 Juta

Kesehatan

Hebat! Wardah Kosmetik Sumbang Rp 40 M untuk Tangani Corona
harga rapid tes corona

Kesehatan

Fadli Zon; Agar Masyarakat Tahu, Prabowo Bilang Harga Alat Rapid Corona Test Hanya 3,5 Dollar

Kesehatan

Masya Allah, 5.402 Orang Pasien Corona RI Sembuh saat Lebaran

Kesehatan

Bagaimana Virus Corona Sampai di Indonesia? Ahli Menjelaskan Begini

Kesehatan

IDI Desak Jokowi Segera Putuskan Lockdown Meski Istilahnya Beda

Kesehatan

Tembus 484 Kasus Positif COVID-19 dalam Sehari: Tanda Puncak Pandemi di Indonesia

Kesehatan

Pemerintah: Kasus Positif Corona di DKI Mulai Melambat, Saat ini Sudah Flat