Home / Kesehatan

Kamis, 19 Maret 2020 - 06:20 WIB

Perawat Gelisah dan Kawatir Akan Kesiapan Pemerintah dan Meminta Hal Berikut

BERITAWAJO.COM – Jumlah kematian akibat corona di Indonesia melonjak menjadi 19 jiwa pada Rabu (18/3). Tambahan jumlah kematian juga diiringi akselerasi angka temuan kasus positif yang totalnya kini menjadi 277 kasus.

Kesiapan pemerintah dalam menghadapi wabah corona di Indonesia membuat Persatuan Perawat Nasional Indonesia gelisah. Mereka mempertanyakan apa yang telah disiapkan pemerintah termasuk alat perlindungan diri (APD) untuk mereka saat menangani pasien.

“Kami gelisah, karena yang sudah disiapkan pemerintah apa? Karena katanya mau ditambah fasilitas di rumah sakit seperti APD. Sedangkan jumlah APD kan terbatas,” ujar Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia Harif Fadhillah saat dihubungi Republika, Rabu (18/3).

Sebab, dia menambahkan, peralatan dan fasilitas di RS termasuk APD harus disiapkan sesuai standar. Padahal, dia menambahkan, biasanya APD digunakan hanya dalam beberapa jam, tetapi faktanya APD bisa digunakan selama satu shift. Padahal itu tidak sesuai, apalagi jumlahnya terbatas.

“Jika APD belum dilengkapi pemerintah, ini jadi riskan untuk perawatnya,” ujarnya.

Selain itu ia khawatir kebijakan ini bisa menambah beban tugas perawat tanpa pengganti tenaga. Padahal, ia menjelaskan kalau seorang perawat bertugas terus-menerus pasti merasa kelelahan. Kemudian selain ikut menangani pasien positif corona, ia mengakui para tenaga kesehatan tersebut juga pasti memikirkan keluarganya, termasuk anaknya jika masih kecil.

“Nah ini kebijakannya seperti apa dari pemerintah? Harus jelas. Saya belum dengar dan bisa jadi persoalan,” ujarnya.

Ia meragukan dan mempertanyakan apakah ada relawan yang bersedia mengganti perawat tersebut karena mencari tenaga pengganti diakuinya susah. Padahal, ia menegaskan sejauh ini perawat menjadi tenaga medis terdepan dalam bencana apapun.

Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mendesak pemerintah melakukan upaya darurat. Di antaranya menambah rumah sakit rujukan untuk menangani pasien.

“Kalau tidak dilakukan maka rumah sakitnya tidak bisa menampung pasien,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih saat dihubungi Republika, Rabu (18/3).

Faqih menambahkan, meski ada tenaga dokter yang tidak dibutuhkan atau menganggur, fasilitas kesehatan khusus rujukan tidak ditambah maka persoalan yang dihadapi adalah jumlah ruangan yang kurang. Selain itu, ia menyebutkan alat kesehatan untuk menangani itu juga bermasalah karena tak memadai.

“Jadi strateginya ya menambah rumah sakit,” katanya.

Sumber

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Viral! Aneka Khasiat Batang Serai. Salah Satu Mengatasi Nyeri Saat Datang Bulan

Kesehatan

4 Orang yang Pernah Kontak Dekat dengan Pasien Corona Diduga Terinfeksi

Internasional

Betulkah Virus Corona Bisa Menyebar Lewat Uang? Ahli Jepang Meng-Iya-kan

Kesehatan

Mengerikan, Ternyata Ini 5 Bahaya Smartphone Bagi Anak!

Kesehatan

Awas Corona Menyerang Anak! Segera Lakukan Pencegahan Seperti Ini

Internasional

Antivirus Corona Dibuat; China, Amerika, Israel, Siapa yang Lebih Cepat?

Kesehatan

Resmi! Dua WNI Positif Corona di Indonesia, Waspadalah

Kesehatan

Pasien Terjangkit Corona Tidak Ditanggung BPJS Ya…