Home / Inspiratif

Selasa, 28 April 2020 - 16:48 WIB

Penjual Takjil di Malaysia Dagangkan Jualan Mereka Online

Kualalumpur – Keluarga Siti Zabedah Abdul Wahab telah 15 tahun berjualan martabak di pasar bazar Ramadhan yang populer di Malaysia. Namun, pada Ramadhan tahun ini untuk pertama kalinya kedai Murtabak Mami Murtabak Sultan menjual produknya melalui WhatsApp dan Facebook.

“Ini adalah pertama kalinya kami berjualan secara online, kami ingin memulai jualan lebih awal untuk memastikan pelanggan tetap dapat membeli produk kami,” ujar Siti Zabedah.

Ramadhan merupakan momentum yang menguntungkan bagi penjual makanan di negara-negara mayoritas Muslim. Sebagian besar umat Muslim pergi keluar rumah untuk makan malam setelah berbuka puasa.

Tak sedikit pula dari mereka yang memilih untuk berbuka puasa di luar rumah bersama dengan kerabat maupun keluarga.

Baca  Pasca Lockdown, Malaysia Mulai Kembali Aktivitas Ekonomi Senin Depan

Namun, pandemi virus korona dan penerapan lockdown telah menyebabkan sejumlah penjual makanan harus memutar otak agar dagangan mereka tetap bisa terjual.

Pihak berwenang Malaysia telah memberlakukan karantina nasional hingga pertengahan Mei dan menutup sejumlah pasar ramadhan. Biasanya, pasar ramadhan ramai dikunjungi warga yang ingin berburu takjil maupun hidangan lainnya untuk berbuka puasa.

Pembatasan sosial ini memaksa ribuan pedagang kaki lima untuk merangkul platform digital. Mereka sangat terpukul dengan pandemi ini dan diperkirakan mengalami kerugian sekitar 11,5 juta dolar AS untuk 100 ribu pedagang.

Untuk mengatasi dampak kerugian tersebut, beberapa perusahaan telah mengembangkan platform e-bazaar. Platform ini membantu para pedagang agar tetap bisa menjual produknya dan dapat menjangkau pelanggan dengan lebih luas secara daring. Platform ini bekerja sama dengan perusahaan pengiriman untuk mengantarkan pesanan tersebut.

Baca  Subhanallah! Inilah Orang yang Diizinkan Duduk di Dekat Ka'bah yang Sepi

Namun, banyak bisnis makanan kecil lebih menyukai untuk menjual langsung dagangan mereka kepada pelanggan ketimbang berjualan secara online dengan platform e-bazaar. Karena, laba yang mereka raup tidak cukup untuk membayar perusahaan pengiriman.

“Kurva penjualan akan sangat curam, tapi kita tidak punya pilihan,” ujar Presiden Asosiasi Pedagang Melayu dan Pedagang Melayu Malaysia, Rosli Sulaiman.

Rosli mengatakan, pedagang makanan kaki lima di Malaysia masih belum terbiasa menggunakan platform digital untuk berjualan.

Baca  Ibu dan Nenek Meninggal karena COVID-19, Ucapan Anak Ini Bikin Meleleh

Berbeda dengan pedagang kaki lima di negara tetangga mereka, Indonesia yang sudah sangat menikmat kehadiran platform digital untuk menjual produk mereka.

“Di Indonesia, Anda dapat memesan hampir semua yang Anda inginkan melalui aplikasi. Di sini kita harus melakukan edukasi karena vendor terbiasa berjualan di jalan. Menggunakan aplikasi online atau bertransaksi tanpa uang tunai akan menjadi hal yang baru bagi mereka,” ujar Rosli.

Kini, puluhan grup pasar bazar Ramadhan Malaysia telah muncul di Facebook. Para penjual menawarkan layanan pengiriman produk mereka kepada pelanggan secara daring. Para pedagang makanan di Singapura juga telah beralih menggunakan platform digital untuk menjajakan dagangan mereka, ketika pasar ramadhan ditutup.

Share :

Baca Juga

Inspiratif

Saat Wabah Melanda, Sahabat Nabi saw, Amr bin Ash Isolasi Negeri Syam

Inspiratif

Subhanallah! Inilah Orang yang Diizinkan Duduk di Dekat Ka’bah yang Sepi

Inspiratif

Sedihnya Wanita yang Ibunya Wafat karena Corona Dikubur Tanpa Pelayat, Bikin Air Mata Menetes

Inspiratif

Kisah Pilu Kakak Beradik Kelaparan di Sumsel, Tubuhnya Kering Kerontang

Inspiratif

Inovatif! Warga Sleman Ini Bikin Masker Transparan untuk Tuna Rungu
UAS bagikan APD

Inspiratif

UAS Bagikan 400 APD. Nakes Histeris: Ustadz .. Ustadz .. Terima Kasih, Ustadz

Inspiratif

Mengharukan Pengabdian Guru Honorer yang Tidak Punya Tangan

Inspiratif

Biar Nggak Bosan di Rumah, Ini Cara Pakai WhatsApp Video Call Sampai 8 Orang