Home / Ekonomi

Senin, 20 April 2020 - 17:32 WIB

Peneliti: Pemerintah Harus Siapkan Dana untuk Corona 2.000 Triliun

Pemerintah – Paket stimulus untuk menghadapi bencana nasional wabah corona oleh pemerintah sebesar Rp 405,1 triliun dinilai sangat minim. Angka itu dinilai jauh dari kebutuhan untuk penanganan pandemi corona atau setelah pandemi reda yang diperkirakan masih panjang.

“Menurut saya masih kurang banget. Angka Rp 405,1 triliun adalah sekitar 2,8% dari PDB. Negara lain jauh lebih besar dari itu. Pandemi ini masih lama, Pak Jokowi saja memperkirakan sampai akhir tahun. Saya perkirakan malah lebih panjang dari itu,” kata peneliti senior Institute of Developing Entrepreneurship (IDE) Sutrisno Iwantono, Senin (20/4).

Menurutnya, selama vaksin belum ditemukan maka virus corona itu akan mengunci banyak orang di rumah dan mengunci juga kegiatan ekonomi. Selama menanti adanya vaksin, maka stimulus ekonomi tetap diperlukan, sebab bila tidak ekonomi masyarakat dan dunia usaha semakin runtuh dan ekonomi akan dalam ancaman krisis yang parah.

Baca  Bertambah 5%, Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 6.300 T

Iwantono seperti diberitakan cnbcindonesia.com berharap pemerintah bisa menambah alokasi dana stimulus. Alasannya selain masa pandemi yang bisa panjang, pelaku usaha untuk bangkit lagi dunia usaha memerlukan suntikan energi pendorong.

“Kadin menghitung besarnya stimulus di angka Rp 1.600 triliun. Angka Kadin ini mirip dengan angka rata-rata stimulus negara lain yang berkisar di angka 10%dari PDB. Bisa jadi kebutuhan kita lebih besar dari itu, mungkin angka Rp2.000 triliun diperlukan, terutama apabila jangka waktunya berkepanjangan,” katanya.

Ia mencontohkan Jepang minggu lalu memutuskan stimulus sebesar Yen 108 triliun atau sekitar 20% dari PDB. Bahkan informasi terbaru, Jepang menaikkan angka paket stimulus ekonomi menjadi 117,1 triliun yen (Rp 16.784 triliun).

Baca  Jubir Pemerintah RI Bantah Tudingan Manipulasi Data Kasus Corona

Beberapa negara juga cukup besar dalam mengalokasikan stimulus terhadap PDB antara lain Australia 10,9%, Jepang 20 %, Malaysia, 10%, Singapura 10,9% Amerika 10,5%.

“Kalau ditanya uangnya dari mana? Alternatifnya adalah pinjam Bank Indonesia melalui misalnya Quantitative Easeing (QE), atau sebut saja cetak uang. Alternatif seperti ini harus segera dipersiapkan, supaya nanti kita jangan terlambat lagi,” katanya.

Selain itu, Iwantono menambahkan persoalan stimulus tak hanya soal angka lebih besar, tapi yang tak kalah penting adalah soal pelaksanaannya tepat sasaran dan cepat.

“Permasalahannya adalah implementasinya. Karena delivery-nya sangat lambat. Kayaknya sih system birokrasi atau ada kelambanan lain ya. Kita terus dorong pemerintah agar bergerak lebih cepat,” katanya.

Salah satu contoh nyata yang kini jadi pembicaraan hangat adalah paket stimulus program kartu prakerja. Dari jumlah orang yang daftar sudah 5 juta peserta, tapi peserta yang baru bisa ikut kegiatan pada gelombang pertama hanya 200 ribu orang.

Baca  AS Curiga soal Jumlah Kasus Corona di RI, Ini Respon Ahli Epidemiologi

“Menurut saya ini agak lambat ya, angka yang antri di belakangnya masih sangat panjang,” katanya.

Belum lagi soal efektivitas penerapan program ini, dari sekitar Rp 3,5 juta biaya pelatihan prakerja per orang, sebesar Rp 1 juta untuk biaya pelatihan. Harusnya pemerintah fokus saja pada penanganan jaring pengaman sosial, karena saat ini yang dibutuhkan adalah kebutuhan mendasar yaitu bantuan langsung maupun pangan.

“Itu juga menjadi pertanyaan saya. Seperti saya sudah katakan beberapa waktu lalu, saya mengusulkan agar dana itu bisa direstrukturisasi menjadi bantuan langsung saja pada rakyat agar bisa mengangkat daya beli dan sisi permintaan,” katanya. (bizlaw)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Jokowi Heran Beras dan Gula Naik, Sementara 50 Juta Rakyat Sudah Sulit Makan

Ekonomi

Waduh, Ustadz Yusuf Mansur Diduga Melakukan Penipuan Bisnis

Ekonomi

Corona Munculkan Lonjakan Pengangguran Terparah

Ekonomi

Pembiayaan Defisit Rp 1.400 Triliun, Bagaimana Ekonomi RI?

Ekonomi

Menko Luhut Sebut Penting Bangun Hubungan Ekonomi dengan China
Covid-19 Tidak Perlu Dilawan

Ekonomi

Covid-19 Tidak Perlu Dilawan, untuk Kebangkitan Ekonomi Ajaran Bung Karno Harus Dijalankan

Ekonomi

Bank Dunia Kembali Mengucurkan Pinjaman Senilai USD 300 Juta atau Hampir Rp 5 triliun

Ekonomi

Nggak Nyangka, Setelah Nanti Corona Hilang, Jenis Profesi Ini Makin Gemilang