Home / Global

Minggu, 31 Mei 2020 - 17:01 WIB

Pelajaran! New Normal Ala Swedia Berakhir Gagal Total

Swedia sempat menjadi rujukan banyak negara, bahwa sebuah wilayah bisa tetap bertahan menghadapi pandemi covid-19 tanpa pemberlakuan kebijakan lockdown atau pembatasan sosial yang ketat.

Anggapan itu mungkin saja benar bila diucapkan pada peritengahan Mei 2020. Namun situasi Swedia terkini nyatanya jauh dari perasaan optimistis. Efek pandemi covid-19 mulai meneror negara Nordik tersebut.

Menyadur Wired, Swedia diketahui tidak sekalipun menerapkan kebijakan lockdown saat dunia gonjang-ganjing diterpa virus corona.

Pemerintah hanya memberi himbauan jaga jarak, di mana keputusan tetap berada di tangan masing-masing warga.

Di ibukota Swedia, Stockholm, restoran, kafe, bar, hingga sekolah-sekolah masih tetap dibuka, bahkan hingga kekinian. Masyarakat hanya disarankan untuk tinggal di rumah apabila merasa sakit.

Kendati terlihat ‘bodo amat’ atau santuy terhadap pandemi covid-19, data mobilitas warga Swedia nyatanya mengungkapkan bahwa orang-orang turut mencemaskan infeksi virus Corona.

Baca  Ternyata Ini Rahasia Umur Panjang Orang Jepang

Selama akhir pekan Paskah, mobilitas warga Swedia diketahui menurun dibanding kondisi normal. Banyak perusahaan swasta juga meminta karyawannya bekerja dari rumah.

Kini, kebijakan new normal atau kenormalan baru–mungkin bisa juga disebut Herd Immunity–ala Swedia dalam menghadapi Covid-19, mulai terlihat kacau balau.

Sudah lebih dari 4.000 orang tewas di negara berpenduduk sekitar 10 juta jiwa itu. Selama tujuh dari 14 hari terakhir, Swedia bahkan memiliki rataan kematian per kapita paling tinggi di dunia.

“Swedia sama sekali tidak banyak berubah,” kata Paul Franks, seorang ahli epidemiologi di Lund University dikutip dari Wired, Sabtu (30/5/2020).

Baca  China Ejek Kesombongan Amerika yang Kini Parah Diserang Corona

“Tetapi karena hal-hal telah berubah di negara lain, Anda telah memperhatikan perubahan dalam tingkat kematian relatif.”

Merujuk data worldometers.info, perbandingan angka kematian di Swedia amat mencolok jika dibandingkan dengan negara teteangga seperti Norwegia, Finlandia, dan Denmark.

Norwegia hingga kini baru mencatatkan 236 kematian, Finlandia 316, serta Denmark 568 kematian.

Menurut Lena Einhorn, seorang ahli virologi dan penulis yang telah menjadi kritikus terhadap pendekatan Swedia, negaranya telah salah mengambil langkah sejak wabah virus Corona meluas pada Januari 2020.

Einhorn mengaku telah memperingatkan pemerintah lewat ahli epidemiologi Anders Tegnell, kendati pada akhirnya saran yang dia berikan tidak digubris.

“Bagi saya, itu (kebijakan Swedia terkait penanganan Covid-19) mulai salah pada akhir Januari,” kata Lena Einhorn.

Baca  15 Warga India Terlindas Kereta saat Mudik Akibat Lockdown

“Badan kesehatan masyarakat dan pemerintah telah memisahkan diri dari kritik. Mengecilkan risiko secara konsisten dari awal Februari.”

Pada akhir Februari, ribuan orang Swedia masih kurang peduli terhadap bahaya Covid-19. Libur selama seminggu tetap dilakukan di mana banyak warga berkumpul mengunjungi pegunungan Alpen untuk bermain ski.

Menurut Einhorn, Swedia yang sejatinya sangat percaya dengan ilmu pengetahuan dan sains, kini kesulitan untuk membuat kebijakan yang objektif lantaran sistem yang dijalankan.

Baik pemerintah maupun pihak oposisi disebut sepakat dengan kebijakan yang ada sehingga kritik terkait penanganan Covid-19 tak mendapat tempat.

“Masalah terbesar di Swedia adalah hanya ada satu suara. Suara itu adalah badan kesehatan masyarakat, dan khususnya Anders Tegnell,” kata Einhorn. (*)

Share :

Baca Juga

Global

Soal Virus Wabah Corona COVID-19, Bill Gates Justru Bela China

Global

Dokter di Malaysia Ini Sebut Kasus Corona di Indonesia adalah Bom Waktu untuk Malaysia

Global

Langgar Aturan Lockdown, Wakil Menkes Malaysia Dihukum Denda

Global

Ada Virus Corona di Kantor PM Israel, Kondisi Netanyahu Masih Misterius

Global

Respons Tiongkok soal Rencana Indonesia Setop Impor

Global

160 Paspampres Filipina Positif Rapid Tes COVID-19, Bagaimana Kabar Presiden Duterte?

Global

Pesawat Jatuh di Pemukiman Warga, 90 Orang Tewas

Global

Ngeri! Astronom: Matahari Masuk Masa Resesi, Bencana Besar Menanti