Home / Opini

Senin, 11 November 2019 - 04:36 WIB

Muhammad saw dan Pandangan Dunia Barat

BERITAWAJO.COM – Berbicara perihal tatanan moral gres dari Islam dan sifat normatifnya yang mana kehidupan Muhammad(saw) yang dimiliki umat Islam, sepertinya berbenturan dengan persepsi Barat terhadap Islam.

Jika tradisi muslim cenderung memuji (mistis) Nabi, sedangkan Tradisi Barat terlalu sering merendahkan dan memfitnah dongeng Nabi. Dua gosip utama (masalah aturan yang menyerupai Yahudi dan ijab kabul Poligini) – telah terbukti sebagai kendala terpopuler, atau mungkin lebih sempurna mendera para kritikus barat dan menimbulkan polemik.

Dalam Khutbah Awal, Muhammad (saw) telah melihat Yahudi dan Nasrani Arab sebagai sekutu alami yang agamanya mempunyai banyak kesamaan dengan Islam. Dia mengantisipasi penerimaan dan persetujuan mereka.

Ketika masyarakat Islam didirikan di Madinah, umat Islam menyerupai Yahudi, telah shalat mengahadap ke Yerusalem. Namun, suku-suku Yahdui yang telah usang tinggal di Madinah dan mempunyai hubungan politik dengan Quraisy, cenderung untuk menolak kedua kerjasama agama dan politik dengan umat Islam. Mereka membantah bahwa muhammad yaitu Nabi dan Rasul, dan mereka malah bekerjasaama dengan musuh mekahnya.

Sementara piagam madinah telah memberika mereka otonomi dalam urusan agama, kesetiaan politik dan kesetiaan yang diharapkan. Namun Alquran telah menuduh suku-suku Yahudi secara melanggar pakta/perjanjian.(Albaqarah:100).

Setelah setiap pertempuran besar, salah satu suku Yahudi dituduh dan dieksekusi sebab tindakan menyerupai itu. Persepsi Muslim  dalam ketidakpercayaan, intrik, dan penolakan pada cuilan dari pengasingan pertama orang-orang Yahudi dan kemudian untuk perang. Setelah Badar, suku Banu Qainuqa dan sehabis Perang Uhud, Bani Nadir, dengan keluarga dan harta benda mereka, diusir dari Madinah. Setelah Pertempuran Parit tahun 627, orang-orang Yahudi dari Banu Qurayza dicap sebagai pengkhianat yang telah didampingi dengan Mekah.

Seperti umum di Arab (dan, memang, Semit) prakteknya, orang-orang dibantai, para perempuan dan belum dewasa terhindar tapi diperbudak. Namun, penting untuk dicatat bahwa motivasi untuk tindakan tersebut bersifat politis daripada ras atau teologis. Meskipun Banu Qurayza telah tetap netral, mereka juga bernegosiasi dengan Quraisy. Selain itu, klan Yahudi yang diasingkan telah aktif mendukung Mekah.

Muhammad bertindak tegas untuk menghancurkan orang-orang Yahudi yang tetap tinggal di Madinah, melihat mereka sebagai bahaya politik untuk terus mengkonsolidasi dominasi Muslim dan aturan di Arab. Satu titik simpulan harus dibuat. Muhammad menggunakan peperangan pada umumnya yaitu absurd baik bagi susila Arab maupun dengan para nabi Ibrani.

Keduanya percaya bahwa Tuhan telah menyetujui pertempuran dengan musuh-musuh Tuhan. Cerita Injil perihal eksploitasi raja dan nabi-nabi menyerupai Musa, Yosua, Elia, Samuel, Yehu, Saul, dan Daud menceritakan usaha sebuah komunitas yang disebut oleh Allah dan kebolehan ini,  dan memang kebutuhan, untuk mengangkat senjata kalau diharapkan terhadap mereka yang telah menantang Tuhan, dan untuk melawan “dalam nama TUHAN semesta alam, Allah tentara Israel.” Demikian pula, dalam berbicara perihal penaklukan Israel, Musa mengingatkan: “Dan saya memerintahkan kepadamu pada waktu itu, mengatakan, ‘Tuhan, Allahmu, telah menunjukkan negeri ini kepadamu untuk dimiliki …. Anda tidak akan takut kepada mereka, sebab itu yaitu Tuhan Allah yang berperang bagi kau “(Ulangan 3:18-22).

Pernikahan Muhammad, telah usang menjadikan  sumber lain kritik Barat terhadap huruf moral Nabi.

Seorang penulis Inggris mencatat telah mengamati:

Tidak ada pemimpin agama besar telah begitu difitnah sebagaimana Muhammad. Diserang di masa kemudian sebagai sesat, penipu ulung, atau mementingkan kesenangan badaniah, itu masih mungkin untuk menemukan beliau disebut sebagai “nabi palsu.” Seorang penulis Jerman modern menuduh Muhammad sensualitas, mengelilingi dirinya dengan perempuan muda. Orang ini tidak menikah hingga beliau berusia dua puluh lima tahun, kemudian ia dan istrinya tinggal dalam kebahagiaan dan kesetiaan selama dua puluh empat tahun, hingga kematiannya dikala ia empat puluh sembilan. Hanya antara usia lima puluh dan kematiannya pada enam puluh dua Muhammad mengambil istri lain, hanya satu di antaranya yaitu seorang perawan, dan sebagian besar dari mereka dibawa sebab alasan dinasti dan politik. Tentu saja catatan Nabi yaitu lebih baik dari pada kepala Gereja Inggris, Henry VIII.

Dalam menangani duduk masalah perkawinan poligini Muhammad, penting untuk diingat beberapa poin. Pertama, budaya Semit dalam praktek umum dan Arab pada khususnya diizinkan poligami. Itu praktik umum dalam masyarakat Arab, terutama di kalangan darah biru dan pemimpin. Meskipun kurang umum, poligami juga diizinkan dalam Injil dan bahkan di Injil Yudaisme. Dari Abraham, Daud, dan Salomo ke masa reformasi, poligami dipraktekkan oleh beberapa orang Yahudi. Sementara aturan Yahudi berubah sehabis Abad Pertengahan sebab imbas dari kekuasaan Kristen, Yahudi di bawah kekuasaan Islam, poligami tetap sah, meskipun tidak secara luas dipraktekkan.

Kedua, selama perdana hidupnya, Muhammad tetap menikah dengan satu wanita, Khadijah.

Ketiga, itu hanya sehabis kematiannya bahwa ia mengambil beberapa istri.

Keempat, Muhammad mendapat keringanan khusus dari Allah melebihi batas dari empat istri yang diberlakukan oleh Quran, hanya terjadi sehabis maut Khadijah. Selain itu, sebagian dari sebelas ijab kabul mempunyai motif politik dan sosial.

Seperti kebiasaan bagi pemimpin Arab, banyak ijab kabul dilakukan  untuk memperkokoh aliansi politik. Lainnya yaitu ijab kabul kepada para janda sahabatnya yang telah jatuh dalam pertempuran dan membutuhkan perlindungan. Pernikahan sulit dalam masyarakat yang menekankan perkawinan perawan. Aisha yaitu satu-satunya perawan yang Muhammad nikahi dan menjadi istri yang  memiliki hubungan yang paling dekat.

Kelima, menyerupai yang akan kita lihat nanti, Muhammad mengajarkan dan bertindak, sesuai dengan  pesan Alquran, meningkatkan status dari semua wanita-istri, anak perempuan, ibu, janda, dan anak yatim. Bicara dari motif politik dan sosial di balik banyak ijab kabul Nabi  seharusnya tidak mengaburkan fakta bahwa Muhammad tertarik pada perempuan dan menikmati istrinya. Menyangkal hal ini akan bertentangan dengan pandangan Islam perihal ijab kabul dan seksualitas, yang ditemukan di kedua wahyu dan hadis, yang menekankan pentingnya keluarga dan memandang seks sebagai hadiah dari Tuhan untuk dinikmati dalam ikatan pernikahan. Banyak dongeng perihal kekhawatiran Muhammad dan perawatan untuk istri-istrinya mencerminkan nilai-nilai ini.

(Excerpted from ‘Islam the Straight Way’ by Professor John L. Esposito, Director of the Center for Muslim-Christian Understanding at Georgetown University). Artikel ini kami terjemahkan dari islamicity.org dengan judul “Muhammad and The West”

Share :

Baca Juga

Opini

Tulisan Menohok dari Netizen Terkait Corona Kepada Presiden

Opini

Istana Krisis, Prabowo Tawarkan Kepemimpinan Baru

Opini

Ukir Kembali Kejayaan Islam, Jangan Hanya Besar Hati Masa Lalu

Opini

Pandemi Covid-19, Konspirasi atau Bukan?

Opini

Mempertanyakan Kebenaran Sebuah Agama

Opini

Gak Nyangka, Tiba-tiba Menhan Prabowo Bantu Jualan di Twitter

Islam

Makkah adalah Baladul Amin, Tidak Akan Dimasuki Corona Jika Corona Itu Tha’un

Opini

Tantangan Umat Islam: Menyatukan Keimanan dan Ilmu Pengetahuan