Home / Global

Selasa, 28 April 2020 - 18:03 WIB

Menelusuri Asal Muasal Covid-19, Benarkah dari Laboratorium Institut Corona di Wuhan?

Pandemik virus corona yang saat ini masih terus menghantui umat manusia rasanya tidak bisa terlepas dari peranan sebuah laboratorium di Distrik Jiangxia, Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China.

Laboratorium itu milik Wuhan Institute of Virology (WIV). Seperti namanya, institut tersebut didirikan untuk mengembangkan virology atau ilmu pengetahuan mengenai virus.

Institut tersebut didirikan pada 1956 di bawah Chinese Academy of Sciences (CAS) yang menjadi laboratorium pertama di China dengan tingkat keamanan level 4 (bio-safety level 4 atau BSL-4) pada 2015.

Laboratorium ini adalah hasil kerja sama dengan insinyur asal Prancis dengan nilai 300 juta yuan. BSL-4 adalah level kemanan tertinggi untuk sebuah laboratorium.

Di sisi lain itu memberi isyarat bahwa “sesuatu” yang berada di laboratorium tersebut dapat mudah ditularkan melalui aerosol dan bisa menyebabkan penyakit parah di mana vaksin dan perawatannya belum ditemukan.

Pada umumnya, protokol untuk memasuki BSL-4 sangatlah ketat. Mulai dari laboratorium kabinet, hingga para pekerja harus menggunakan alat pelindung diri dan harus melewati beberapa tahap, termasuk didekontaminasi terlebih dulu sebelum keluar.

Selain itu, semua hal yang berada di dalam laboratorium tersebut harus bebas dari pinggiran yang tajam untuk meminimalisir robeknya sarung tangan para ilmuan.

Dari segala protokolnya yang ketat, tampak sudah seberapa berbahayanya “sesuatu” yang berada di laboratorium tingkat 4 seperti WIV.

Sejak berubah dari Wuhan Institute of Microbiology menjadi Wuhan Institute of Virology pada 1978, WIV mulai melakukan penelitian terkait dengan jenis-jenis virus, khususnya virus serangga dan hewan hingga 1990-an.

Baca  Tulisan Menohok dari Netizen Terkait Corona Kepada Presiden

Dari laman WIV, mulai 1998, mereka mulai berfokus pada penelitian aplikasi mikroba dan inovasi teknologi tinggi biologis. Hingga pada 1999, mereka berhasil mengembangkan tipe dasar penelitian dan pengembangan teknologi tinggi.

Pada 2002, mereka mengaku telah membuka tahap baru dalam pengembangan inovasi. Dan pada 2003, muncul sebuah virus yang dinamakan SARS-CoV-1 di China atau yang disebut dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Virus ini diyakini berasal dari hewan, yaitu kelelawar yang berada di sebuah gua di Provinsi Yunnan. Pada saat itu, WIV memiliki keuntungan karena memang memiliki disiplim ilmu yang lebih besar pada virologi serangga, virologi hewan akuatik, hingga analisis bioteknologi.

Cukup kebetulankah?

Alhasil, pada 2004, Prancis dan China menandatangani perjanjian kerja sama untuk mencegah penyakit baru. Mulailah pada 2005 keduanya membangun WIV yang saat ini dikenal selama 10 tahun lamanya.

Setelah mendapatkan sertifikat pengakuan dan otentikasi, pada Agustus 2016 WIV mulai melakukan penelitian ilmiah tentang pencegahan dan pengendalian penyakit menular baru.

WIV terus dikembangkan dengan tujuan bisa menjadi pusat penyimpanan benih virus dan laboratorium rujukan WHO. Sekitar tiga tahun kemudian, pada Desember 2019, muncul sebuah penyakit mirip pneumonia yang belum pernah ada sebelumnya di Wuhan. Tepatnya di Pasar Makanan Laut Wuhan di Distrik Jianghan.

Hingga saat ini, penyakit yang memiliki nama Coronavirus Disease (Covid-19) yang muncul dari virus SARS-CoV-2  ini sudah menginfeksi ratusan ribu orang di lebih dari 150 negara. Sementara ribuan orang sudah meninggal dunia.

Baca  Respons Tiongkok soal Rencana Indonesia Setop Impor

Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk virus ini mengancam kehidupan umat manusia. Tentu, jika benar Covid-19 pertama kali muncul pada Desember.

Entah apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan berikutnya jika virus ini terus menjalar dan vaksinnya belum ditemukan.

Lalu, mengapa mengaitkan Covid-19 dengan WIV?

Sejak Covid-19 muncul, dugaan pertama yang muncul adalah virus itu merupakan kebocoran dari Wuhan Institute of Virology. Tentu dugaan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh China. Salah satunya adalah seorang ahli virolog dari WIV bernama Shi Zhengli.

Shi baru-baru ini mengungkapkan kronologi kemunculan Covid-19. Pada 30 Desember 2019, Shi mengaku ditelepon untuk meneliti sampel dari rumah sakit di Wuhan di mana sudah ada dua pasien Covid-19 di sana.

Dari hasil penelitian yang berulang kali, ditemukan sumber penyakit tersebut adalah virus corona. Sangat mirip dengan virus corona yang menyebabkan SARS di Yunnan. Namun, Shi mengaku keheranan karena menurutnya tidak mungkin wilayah di tengah China, seperti Wuhan mendapatkan virus itu.

Pasalnya, virus yang berasal dari kelelawar tersebut biasanya berada di kawasan subtropis seperti di utara China. Seperti takut akan adanya kebocoran di laboratorium, Shi lantas membandingkan sampel virus baru itu dengan virus-virus yang telah dia teliti.

Pada saat itu, dia mengaku bernapas lega karena tidak ada kecocokan di sana. Sayangnya, pernyataan Shi memicu kritikan. Banyak yang mempercayai bahwa Covid-19 adalah hasil dari kebocoran laboratorium di Wuhan.

Baca  Inggris Kucurkan Rp1,5 Triliun buat Sewa Pesawat Penjemput Warganya di Luar Negeri

Mengapa? Pertama, meski letak WIV dan Pasar Makanan Laut Wuhan cukup jauh sebenarnya, yaitu 21 kilometer. Namun, beberapa penemuan menunjukkan, Covid-19 bukan lah muncul pada Desember.

Sebuah penelitian baru menunjukkan, pasien pertama atau yang disebut “Pasien Nol” Covid-19 muncul sejak November. Sejak itu, virus terus menulari orang-orang lainnya. Mengingat pasar adalah tempat yang ramai, penularan virus secara massal terjadi di sana.

Selanjutnya, Covid-19 pertama kali diidentifikasi berasal dari hewan, yaitu kelelawar seperti SARS. Walaupun sampai saat ini belum ada penemuan yang meyakinkan.

Sementara itu, WIV sendiri memiliki disiplin ilmu untuk virology serangga dan hewan yang bukan tidak mungkin bisa mengembangkan virus mematikan ini.

Apalagi, WIV adalah laboratorium dengan tingkat keamanan tertinggi. Di sisi lain, menelusuri situsnya, www.whiov.cas.cn, sejak merebaknya virus corona, WIV cukup jarang untuk mempublikasikan progres temuannya.

Terakhir temuannya diunggah pada Januari 2020 mengenai mini-ferritin-AIE dan HIV. Itu berselang beberapa bulan dari penelitian sebelumnya pada Oktober.

Padahal sebelum Juli, setiap minggunya, WIV selalu mengunggah progres temuannya. Mungkin, sudah sejak Juli mereka menemukan Covid-19 dan fokus untuk menelitinya. Tidak tahu pasti. Sebagai anak dari Chinese Academy of Science (CAS), WIV tentu memiliki keterkaitan dengan pemerintah.

Gerak-gerik Presiden Xi Jinping dan jajarannya yang dianggap selalu menutup-nutupi informasi mengenai Covid-19 juga menguatkan bahwa virus ini tidak bersifat “alamiah”.

Ketidakhadiran Xi dan keagresifan pejabat di sana ketika menghadapi kritikan menimbulkan pertanyaan: “Apa yang sedang mereka sembunyikan?”. (Rmol)

Share :

Baca Juga

Virus Corona Buatan Lab di Wuhan

Global

Trump: Virus Corona Buatan Lab di Wuhan

Global

Profesor yang Teliti Virus Corona di AS Tewas Ditembak

Global

Virus Corona; Teguran Tuhan Terkait Uighur?

Global

Pasca Lockdown, Malaysia Mulai Kembali Aktivitas Ekonomi Senin Depan

Global

Uni Eropa Tidak Akan Akui Kedaulatan Israel

Global

AS Imbau Warganya untuk Meninggalkan Indonesia

Global

Ajak Semua Orang Kembali Pada Tuhan, Trump Tetapkan Hari Berdoa Nasional

Global

Politikus Ini Bikin Geger Minta Puasa Ramadan Ditangguhkan