Home / Peristiwa

Senin, 18 Mei 2020 - 00:56 WIB

Lagi, ABK Indonesia di kapal Cina Disiksa, Tewas dan Dibuang ke Laut

Ilustrasi orang tenggelam

Ilustrasi orang tenggelam

Belum hilang ingatan akan kasus lenyiksaan dan pembuangan jasad anak buah kapal (ABK) WNI di Kapal Berbendera Cina, Long Xing 629,a kasus serupa terjadi lagi.

Penganiayaan dan kekerasan fisik diduga dialami warga Indonesia yang menjadi ABK di kapal penangkap ikan berbendera Cina, Luqing Yuan Yu 623.

Kekerasan fisik yang dialami oleh ABK bernama Herdianto itu diduga menjadi penyebab ia tewas dan dilarung ke laut Somalia.

“Sebelum meninggal, Herdianto terindikasi terjadi mengalami penganiayaan, tindakan kekerasan fisik (pukulan dan tendangan dengan menggunakan pipa besi, botol kaca dan setrum),” ujar M. Abdi Suhufan dari National Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/5/2020).

Abdi mengatakan, kekerasan fisik terhadap Herdianto mengarah kepada indikasi kerja paksa. Akibatnya, Herdianto lumpuh hingga akhirnya meninggal dunia.

Baca  Tak Puas dengan Penyaluran BLT, Warga Ubrak-abrik Kantor Desa

“Pada saat kejadian meninggalnya Herdianto, para ABK meminta kembali ke ke darat tapi tidak diizinkan nakhoda dan tetap menangkap ikan.”

Praktik perbudakan dan kekerasan yang dialami Herdianto itu viral di media sosial setelah video pembuangan jenazahnya beredar pada Sabtu (16/5/2020).

Dalam video yang terbagi menjadi beberapa bagian itu, terlihat juga kondisi ABK yang diduga Herdianto lumpuh hingga harus dibantu 3 rekan ABK lain untuk berdiri.

Dalam cuplikan video yang lain, Herdianto tampak sudah tidak bernyawa dan jenazahnya dibungkus dengan kain bewarna oranye.

Di video selanjutnya, jenazah dilempar ke laut oleh 4 ABK lainnya. Salah satu ABK mengucapkan sebuah kalimat dengan logat Jawa. “Ngapung… wo… ngapung,” ujar dia.

Baca  Kasihan! Kepala Kampung Dianiaya Saat Sosialisasi Corona Hingga Lebam dan Tangan Terkilir

Atas dasar temuan itu, DFW-Indonesia mendesak pemerintah melalui Kementerian Perhubungan, BP2MI dan Kementerian Tenaga Kerja saling bekerjasama untuk mengusut agen yang mengirimkan ABK Indonesia dan dipekerjakan di kapal Luqing Yuan Yu 623.

Mereka juga meminta pemerintah Indonesia melakukan moratorium pengiriman ABK Indonesia ke kapal Cina.

“Kementerian Luar Negeri harus segera berkoordinasi dan meminta keterangan pemerintah Cina atas kasus yang dialami ABK Herdianto yang sakit dan meninggal di kapal Luqing Yuan Yu 623 dan dilarung di laut Somalia,” ujar Abdi.

Sebelumnya, kasus kematian ABK Indonesia di kapal Cina juga viral setelah video yang disiarkan televisi berita Korea Selatan memperlihatkan jenazah ABK Indonesia yang dilarung ke laut dari atas kapal nelayan Cina, Long Xing.

Baca  China Sampaikan Pesan Ini ke AS yang Hentikan Dana untuk WHO

Video itu juga mengungkapkan perbudakan dan eksploitasi terhadap awak WNI di kapal itu.

Video pertama kali diwartakan oleh Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) pada 6 Mei 2020, yang diberikan oleh awak kapal selamat kepada pemerintah Korea Selatan dan MBC untuk meminta bantuan saat kapal memasuki Pelabuhan Busan.

Menurut investigasi MBC, pembuangan jenazah ABK WNI terjadi di Samudera Pasifik pada 30 Maret 2020. Video dibagikan kanal YouTube MBCNEWS berjudul “[Eksklusif] 18 jam Kerja Sehari, Jika Sakit dan Meninggal, Buang ke Laut.” (jl)

Share :

Baca Juga

motor lelang jokowi

Peristiwa

Polisi: Pemenang Tak Paham Acara Lelang Motor Jokowi, Disangka Dapat Hadiah

Peristiwa

Ini 13 Mitos dan Fakta Terkait COVID-19. Nomor 3 Paling Banyak!

Peristiwa

Poto Mengharukan! Pasien Sembuh Covid-19, Disambut, Sujud Sampai Diberi Bunga

Peristiwa

Suaminya Angkut Harley Davidson Selundupan, Ini Penjelasan Iis Dahlia

Peristiwa

Mengerikan, Ini Penjelasan Ahli Geologi Soal Dentuman Misterius di Jabodetabek
Kepergok Curi Singkong

Peristiwa

Kepergok Curi Singkong karena Lapar, Kakek Ini dapat Uang Rp.600 ribu dari Pemilik Kebun

Peristiwa

Viral Gadis di Garut Pingsan Dikira Corona, Ternyata Diputusin Pacar

Peristiwa

Aneh! Bermunculan Gelembung di Sekitar Anak Krakatau Setelah Erupsi