Home / Politik

Senin, 18 Mei 2020 - 04:40 WIB

Kritisi Kenaikan BPJS Kesehatan, Fadli Zon: Apa Namanya Kalau Bukan Jahat?

Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI Fadli Zon meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan bagi peserta jalur mandiri.

Menurut Fadli, kenaikan premi asuransi dari negara melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan itu merupakan buah keputusan jahat.

“Di tengah pandemi Covid-19 yang telah menekan perekonomian masyarakat, di mana semua sektor dan pelaku ekonomi saat ini sedang terpukul, keputusan pemerintah menaikan iuran BPJS ini, menurut saya, adalah sebuah keputusan yang jahat sekali. Absurd,” ujar Fadli melalui layanan pesan ke jpnn.com, Sabtu (16/5).

Baca  Mantap! Digugat Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia, MA Batalkan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Lebih lanjut Fadli membeber alasannya menganggap kenaikan iuran BPJS Kesehatan merupakan keputusan jahat. Pertama, awal Maret lalu Mahkamah Agung (MA) membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang diatur dalam Perpres No 75 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Perpres 82 Tahun 2018.

Alasan MA membatalkan Perpres 75 Tahun 2019 adalah menganggap kenaikan iuran BPJS Kesehatan ketika kondisi ekonomi sedang lemah merupakan kebijakan yang sangat tidak tepat. ”Bayangkan, sebelum terjadinya pandemi saja kenaikan iuran itu sudah dianggap tidak pantas, kenapa sesudah kondisi kita kian memburuk, pemerintah justru kembali menaikkan tarif? Apa namanya kalau bukan jahat?” tutur Fadli.

Baca  Kritik Dierktur CESPELS; Pakai Jurus Pedagang Tanpa Perencanaan, Cara Jokowi Tangani Covid-19 Patut Dipertanggungjawabkan

Kedua, kata Fadli, pada akhir Maret lalu pemerintah telah menerbitkan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19.

Perppu yang telah disetujui DPR menjadi undang-undang itu memberi ruang kepada pemerintah menambah anggaran sebesar Rp 405,1 triliun dan melebarkan melebarkan defisit dalam rangka penanggulangan pandemi corona.

“Dengan tambahan anggaran sebesar itu, pemerintah seharusnya tidak perlu lagi membebani rakyat dengan kenaikan tarif BPJS. Sebab, semestinya prioritas penggunaan anggaran tadi kan untuk belanja kesehatan masyarakat, termasuk untuk menomboki BPJS,” tegasnya.

Oleh karena itu Fadli menganggap kebijakan Presiden Jokowi menaikkan premi BPJS Kesehatan merupakan keputusan aneh dan ironis. Alasannya, ketika pemerintah menambah anggaran belanja dengan dalih darurat kesehatan, beban iuran kesehatan masyarakat justru meningkat hampir seratus persen.

Baca  Pengamat: Presiden Jokowi Harus Segera Buka Data Perjanjian Utang Dengan China 

“Sungguh ironis. Jadi, anggaran yang besar tadi untuk belanja apa sebenarnya, kalau tidak digunakan untuk membantu belanja kesehatan dasar seperti BPJS ini?!” tegasnya.

Wakil ketua DPR periode 2014-2019 itu menegaskan, kenaikan premi BPJS Kesehatan yang hampir 100 persen justru menguatkan kecurigaan banyak pihak tentang agenda tersembunyi di balik penambahan dana Rp 405,1 trilin melalui Perppu Corona. “Tidak digunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat, tetapi untuk kepentingan yang lain,” pungkasnya.(jpnn)

Share :

Baca Juga

Nasional

Desak Anies Baswedan Dimakzulkan, Satyo Purwanto Sebut Massa Kesurupan Atas Dasar Kebencian

Politik

Rizal Ramli: Tunjangan Guru Dipangkas 3,3 Triliun, Stafsus Presiden Dapat Proyek 5,6 Triliun

Politik

PBNU Minta Pemerintah Batalkan Pelatihan Online Kartu Prakerja

Politik

Tifatul Sembiring Mulai Khawatir Partai Gelora Indonesia Acak-acak Kader PKS

Politik

Mahfud MD; Terkait Corona Jangan Ada Kepala Daerah Cari Panggung. Siapa yang Dimaksud? Anies Kah?

Politik

Fraksi PKS Sendirian Tolak Perppu Corona, Kok Bisa?

Politik

Mulan Jameela Kritik Pertamina yang Hanya Peduli Ojek Online
Virus Corona Ditularkan oleh Kebijakan Pemerintah

Politik

Rocky Gerung: Virus Corona Ditularkan oleh Kebijakan Pemerintah yang Buruk