Home / Nasional

Kamis, 8 Agustus 2019 - 04:53 WIB

Inilah Fakta Sejarah Asal Mula Masuknya Orang-Orang Yahudi di Palestina Sampai Terbentuknya Negara Israel

Ilustrasi

Sejarah asal mula masuknya orang-orang Yahudi di Palestina, tak lepas dari lonjakan pengungsi Palestina

Dampak terbesar dari Perang 1948 ialah pengusiran sebagian besar penduduk Palestina. Sebelum perang, setidaknya ada sekitar 1.000.000 orang Arab Palestina di perbatasan Israel.

Pada akhir perang tahun 1949, 700.000 hingga 750.000 dari mereka telah terusir, hanya 150.000 saja yang tetap tinggal di Israel.

Begitulah adanya, pengungsi selalu menjadi objek penderita dari buah peperangan. Sepanjang kejadian ini, beberapa kelompok orang telah melarikan diri demi menghindari pertempuran dan penaklukan.

Alasan yang membuat orang-orang Palestina mengungsi di tahun 1948 terbilang unik, mengapa mereka menjadi pengungsi?

Padahal itu seolah tak berarti, alasannya ialah masih sangat banyak konflik di banyak sekali wilayah di sana hingga hari ini. Sejarawan menganalisis penyebab eksodus warga Palestina sangat dipengaruhi oleh politik dan korelasi internasional.

Beberapa alasan utama eksodus tersebut adalah: Ketakutan:

Banyak warga Palestina mengungsi alasannya ialah lantaran takut akan serangan dan kekejaman Israel. Ketakutan mereka sangat beralasan, pada 9 April 1948, sekitar 120 penjajah Israel memasuki kota Deir Yassin, bersahabat Yerusalem, kemudian membantai 600 penduduk desa.

Baca  Jokowi Mengatakan Klorokuin Bisa Sembuhkan Pasien Corona, Kominfo Langsung Ralat. Sumule; Sebar Hoax Dong?

Beberapa meninggal membela kota dalam pertempuran melawan pasukan Israel, sementara yang lain dibunuh dengan granat tangan yang dilemparkan ke rumah-rumah mereka, atau dihukum sesudah diarak melewati jalan-jalan Jerusalem.

Sejarah Pembantaian-Deir-Yassin

Setelah kejadian ini, pembantaian pun menyebar ke seluruh Palestina, orang-orang Palestina sangat takut akan kemungkinan terburuk yang ditimbulkan orang-orang Yahudi ini. Dalam banyak kasus, warga-warga di seluruh desa Palestina melarikan diri dari kebengisan Yahudi.

Mereka berharap sanggup menghindari jatuh pada nasib yang sama dengan penduduk Deir Yassin. Beberapa kelompok Yahudi Israel, menyerupai Yishuv, berbagi perasaan takut ini melalui perang psikologis yang dimaksudkan untuk mengintimidasi warga kota-kota Palestina biar mengalah atau melarikan diri.

Siaran radio yang disiarkan dalam bahasa Arab, memperingatkan warga Arab bahwa mereka tidak akan bisa menghadapi serangan orang-orang Israel, perlawanan ialah kesia-siaan. Pengusiran oleh Pasukan Israel: Ketakutan ialah faktor pendorong utama bagi pengungsi di awal perang. Lalu,

Perang yang berlarut-larut hingga tahun 1948, membuat agresi pengusiran oleh orang-orang Israel kian marak. Yahudi Israel terus menaklukkan wilayah demi wilayah, pasukan mereka kian tersebar dalam jumlah besar di seluruh negeri.

Baca  Luhut: Pemerintah Cari Format Tepat Rekonsiliasi dengan PKI

Akibatnya, desa-desa yang gres ditaklukkan dikosongkan secara paksa oleh pasukan Israel. Contoh positif dari hal ini ialah kota-kota di Lida dan Ramla, bersahabat Yerusalem. Ketika wilayah tersebut ditaklukkan pada bulan Juli 1948, Yitzhak Rabin menandatangani sebuah perintah mengusir semua warga Palestina dari dua kota yang mempunyai populasi sebesar 50.000 hingga 70.000 orang itu.

Pasukan Yahudi Israel menekan penduduk hingga ke garis perbatasan Arab, sementara yang lain dipaksa untuk berjalan dan hanya diizinkan mengangkut barang yang bisa mereka bawa.

Pengusiran ini prosentasenya hanya sekitar 10% dari total pengusiran warga Palestina di tahun 1948. Anjuran Pasukan Arab:

Dalam beberapa kesempatan, tentara Arab dari negara-negara tetangga, khususnya Yordania, menganjurkan biar penduduk di kota-kota Palestina mengungsi. Salah satu alasannya ialah untuk menunjukkan medan perang terbuka antara Arab-Israel tanpa ada warga sipil dalam baku tembak tersebut.

Apapun latar belakangnya, banyak warga sipil Palestina meninggalkan rumah mereka di bawah kode dari tentara Arab, mereka berharap bisa segera kembali sesudah kemenangan pasukan Arab, dan hanya menjadi pengungsi di negara-negara tetangga –bukan menetap terus-menerus-.

Baca  Kemenaker: Kami Tak Bisa Tolak Izin 500 TKA China di Sultra

Dampak Peperangan Perang Arab-Israel tahun 1948 membuat duduk kasus pengungsian besar-besaran di Timur Tengah. Lebih dari 500 kota besar dan kecil di seluruh Palestina benar-benar kehilangan penghuni selama perang ini berlangsung. 700.000 lebih pengungsi dari kota-kota tersebut menjadi beban ekonomi dan sosial di negara-negara tetangga dan Tepi Barat, terutama di wilayah Yordania.

Pada tahun 1954, Israel membuatPrevention of Infiltration Law –sebuah aturan yang dibentuk Israel untuk mengatur orang-orang yang masuk dari dan ke wilayah mereka baik bersenjata maupun tidak-. Hukum ini memungkinkan pemerintah Israel mengusir setiap warga Palestina yang berhasil menyelinap kembali ke rumah mereka yang telah menjadi wilayah Israel.

Pengungsi-Nakba Saat ini, hak kembali masih merupakan duduk kasus utama yang belum bisa diselesaikan oleh negosiasi tenang antara Palestina dan Israel.

Pengusiran paksa warga Palestina pada tahun 1948 terbukti menjadi duduk kasus yang terus berlangsung bahkan sesudah para pengungsi tahun 1948 telah meninggal semuanya di awal tahun 2000-an, duduk kasus pun tetap ada.

Share :

Baca Juga

Luhut pun Banjir Dukungan

Nasional

Said Didu Tolak Minta Maaf, Kubu Luhut: Kita Tunggu Sajalah!

Nasional

Dahlan Iskan: Bersyukur Ada Wabah Corona? Rakyat Kecil Bisa Bersedekah ke Pertamina

Nasional

Serang Anak Buah Prabowo, Tifatul Sembiring: Anda di Paripurna Ngomong Lain

Nasional

Viral Video Wanita Menangis Hampir Menjadi Korban Pemerkosaan

Nasional

Margarito: Jokowi Berdirilah di Podium Istana, Jelaskan Kenapa BBM Belum Turun! 

Nasional

Menaggapi Wacana Darurat Sipil, Ini Seruan Habib Rizieq dari Tanah Suci
Token Listrik Gratis

Nasional

Token Listrik Gratis Bulan Mei, Ini Cara Mendapatkan via WhatsApp dan Website PLN

Nasional

Laporkan Warganya hingga Ditahan, Andi Arief Minta Bu Risma Belajar dari Ahok