Home / Peristiwa

Rabu, 6 Mei 2020 - 16:31 WIB

Cerita Viral ABK: Kerja 18 Jam, Jatuh Sakit, Meninggal dan Dilempar ke Laut

Sebuah video yang dipublikasikan oleh Stasiun TV MBC Korea Selatan yang videonya diunggah ke kanal YouTube pada Selasa (5/5/2020), memperlihatkan jenazah Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal China dilempar ke tengah laut. Video MBC menempati urutan kelima trending YouTube pada Selasa.

Pemberitaan tentang jasad WNI ABK kapal Longxing 629 China yang dibuang ke laut ini trending di Korea Selatan. Seperti dijelaskan oleh YouTuber asal Korea Selatan yang fasih berbahasa Indonesia, Jang Hansol atau dikenal Korea Reomit.

Dalam video Hansol menjelaskan pemberitaan WNI ABK kapal dari China ini sedang heboh diberitakan di Korea. Sebab, ABK kapal yang menjadi saksi kejadian itu sempat meminta tolong kepada pemerintah Korea Selatan dan media.

Hansol menunjukkan video MBC tentang jasad WNI ABK kapal Longxing 629 China yang dibuang ke laut itu masuk dalam daftar trending YouTube Korea.


“Jadi saat berita ini naik aku sudah lihat, terus ada juga yang email aku bilang, mas Hansol ini tolong diberitakan karena ini belum sampai di Indonesia. Ini bukan berita yang menyenangkan, ini berita yang menyedihkan,” ujar Hansol.

Baca  Pemerintah Diminta Tuntut China soal Mayat ABK WNI Dibuang ke Laut

Beberapa ABK asal Indonesia yang mengetahui kejadian itu memberikan kesaksian. Mereka menyebut bahwa jasad temannya yang meninggal seharusnya dikremasi.

Sebanyak tiga WNI yang bekerja menjadi ABK di kapal Longxing 629 China dikabarkan telah meninggal dan jasadnya dibuang ke laut. Mereka adalah Ari (24), Alfattah (19) dan Sepri (24).

Video yang beredar menunjukkan detik-detik ketika jasad Ari dibuang ke laut dimana sebelumnya dilakukan pemakaman sederhana dengan dupa dan mencipratkan alkohol.

Dalam video MBC itu juga ditampilkan sebuah surat pernyataan yang menunjukkan bahwa ada kesepakatan dimana ABK yang meninggal saat bekerja jasadnya dikremasi dan abunya diberikan kepada keluarga.

Selain itu, dalam surat tersebut juga tertulis uang sebesar 10.000 US Dolar akan diserahkan kepada ahli waris saat ada ABK yang meninggal. Surat pernyataan itu juga tertulis dalam bahasa Indonesia.

ABK A asal Indonesia mengaku, “Rekan-rekan pelaut bersaksi bahwa kondisi di kapal itu buruk dan eksploitasi berlanjut, dan bahwa para pelaut yang telah meninggal mengeluh tentang penyakit mereka selama sekitar satu bulan”.

Baca  Punya Kemesraan dengan China, Kepedulian Luhut Diuji dalam Kasus Kematian WNI di Kapal China

ABK B asal Indonesia menduga penyebab kematian rekannya karena air minum yang tidak layak.

“Awalnya, rekan-rekan yang meninggal merasakan mati rasa pada kaki, dan kakinya mulai membengkak. Saya membengkak di tubuh saya dan sulit bernapas,” ujar ABK B, dilaporkan MBC News.

Para ABK asal Cina di kapal itu minum air minum kemasan. Tetapi ABK asal Indonesia tidak diperbolehkan meminumnya.

ABK Indonesia minum air laut yang telah disaring. Mereka mengatakan setelah minum air itu lalu jatuh sakit.

“Awalnya, saya tidak minum air laut yang disaring. Kemudian saya pusing. Lalu dahak mulai keluar dari tenggorokan saya,” tutur ABK B.

Konon, mereka juga bekerja selama 18 jam sehari bahkan lebih.

“Kadang-kadang saya harus berdiri dan bekerja selama 30 jam berturut-turut, dan saya tidak bisa duduk kecuali ketika makan yang diberikan setiap enam jam,” kata ABK A.

Ketua Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI) Korea Selatan Ari Purboyo menjelaskan, ABK dengan total 18 orang itu berangkat dari Indonesia menuju Korea Selatan lalu dijemput dengan kapal tersebut setahun lalu.

Baca  Tegur Agar Pakai Masker, Perawat Malah Diancam Dibunuh

Ia menyebut, ada tiga perusahaan yang bertanggung jawab atas keberangkatan ABK tersebut yakni PT Lakemba Perkasa Bahari, PT Alfira Perdana Jaya (APJ) dan PT Karunia Bahari.

Setelah dijemput, mereka pun berlayar ke laut lepas. Namun tiga ABK mengalami sakit di tengah laut sampai akhirnya meninggal dunia.

Al Fattah dan Sefri sempat dipindahkan ke kapal lain untuk mendapatkan pertolongan medis namun nyawanya tidak dapat tertolong dan jasadnya dilarung ke laut. Sefri diketahui meninggal dunia ketika kapal tengah berada di Laut Samoa.

Selang setahun kemudian, 14 ABK yang masih bertahan pun akhirnya mendapatkan pertolongan oleh otoritas setempat dan kini tinggal di sebuah hotel di Busan, Korea Selatan.

Rencananya, 14 ABK itu pulang ke Indonesia namun masih bingung dengan pembiayaannya. Ari mengaku sudah berbicara dengan sejumlah perusahaan yang bertanggung jawab namun belum menemukan titik terang. “Sepanjang ini komunikasi kami alot,” ucap Ari. (BL)

Share :

Baca Juga

Peristiwa

Beberapa Kali Suara Dentuman yang ‘Hantui’ Indonesia Sampai Hari Ini Masih Misteri

Peristiwa

Kasihan Banget! Tukang Becak Pingsan Diduga Corona Ternyata …

Figur

Kepeleset Di Panggung Miss Universe 2019; Bagaimana Nasib Puteri Indonesia?

Peristiwa

Gegara Buka Peti Jenazah Pasien COVID-19, 15 Warga di Sidoarjo Positif Corona

Peristiwa

Heboh Dentuman di Jateng, Warga Lihat Benda Berekor Kuning Jatuh dari Langit

Peristiwa

Lecehkan Lagu Aisyah Istri Rasulullah, Komika Asal Medan Ditangkap

Peristiwa

4 Direktur Garuda Ikut Dicopot, Wamen BUMN Pastikan Keselamatan Penumpang Tetap Terjaga

Peristiwa

Di Tengah Pandemi, Mahasiswa UIN Syarief Hidayatullah 19 Hari Jalan Kaki dari Jakarta Ke Bima