Skip to main content

follow us

Kasek Pencabul 14 Siswi di Soppeng Divonis 5 Tahun, Arist Merdeka Sirait: Putusan Hukum yang Merendahkan

BERITAWAJO.COM, JAKARTA — Setelah kepala sekolah SDN Soppeng berinisial HMD (52) divonis Pengadilan Negeri Watansoppeng, Komnas Perlindungan anak langsung membentuk tim investigasi dan advokasi hukum. Sebab, ada banyak yang tidak dipertimbangkan oleh hakim dalam memutuskan perkara itu

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, untuk memastikan dan mengetahui pertimbangan dan dasar hukum majelis hakim memvonis 5 tahun penjara terhadap kepala sekolah SDN Soppeng, sudah dibentuk Tim Investigasi dan Advokasi Hukum Komnas Perlindungan Anak, untuk segera mempelajari dan mengkaji pertimbangan dan dasar hukum dari vonis ringan tersebut.


Foto Istimewa

“Vonis ringan majelis hakim atas perkara kejahatan seksual berulang dan terencana yang dilakukan HMD terhadap 14 siswinya, adalah putusan hukum yang merendahkan martabat kemanusiaan dan melecehkan nilai-nilai hak asasi manusia,” katanya kepada FAJAR Senin, (18/11/2019).

Kata dia, terdakwa divonis hukuman 5 tahun pidana penjara untuk satu perkara. Sementara terdakwa sesungguhnya memiliki empat berkas perkara. Berkas perkaranya sendiri ada 4, karena beda waktu kejadian.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dikenakan pasal 76 E UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak junto pasal 82 ayat 1, 2, 4, 5, dan 6 UU Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Republik Indonesia perubahan atas Nomor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak kasus dengan ancaman pidana pokok minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun pidana penjara.

Bahkan bebernya, dapat diancam dengan hukuman seumur hidup serta dapat pula ditambahkan dengan hukuman kastrasi atau kebiri lewat suntik kimia, karena dilakukan pelaku secara berulang dan terencana.

“Perbuatan pelaku diketahui dilakukan ditiga lokasi berbeda di ruang kepala sekolah, ruang komputer dan perpustakaan sekolah dan Kejadian ini terjadi rentang waktu tahun 2014 hingga 2019,” geram Arist.

Demikian berita ini dikutip dari FAJAR.CO.ID untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Berita Terkait Lainnya:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar