Pengakuan Surianto, Bekas Sandera Abu Sayyaf Asal Gilireng Kabupaten Wajo
By: On:

Pengakuan Surianto, Bekas Sandera Abu Sayyaf Asal Gilireng Kabupaten Wajo

BERITA WAJO – Suasana haru Bumi Cakkuridi menyambut kedatangan salah satu Kru kapal Brahma 12. Surianto tiba di kampung halamannya, Kelurahan Gilireng, Kecamatan Gilireng Kabupaten Wajo sejak pagi tadi, Selasa 3 Mei 2016.

Diketehui Surianto merupakan salah satu korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf di wilayah perairan Filipina sejak 25 Maret lalu bersama 9 kru kapal lainnya.

Saat ditemui dikediamannya, Surianto menceritakan krolonogis mulai penyanderaan hingga dirinya dibebaskan oleh kelompok Abu Sayyaf. Suri, akrab ia disapa membeberkan, Kapal Brahma 12 di sandera tanggal 25 maret 2016, lalu sekitar jam 15.20 waktu setempat.

Surianto mengatakan, Saat itu Kapal Brahma 12 sementara jalan tiba-tiba saja terlihat ada speed boat yang langsung menempel di kapal kami. Kata Suri, terlihat 10 orang pakai cadar bersenjata lengkap.

“Setelah itu kami diikat pakai tali dan dipindahkan ke speed boat yang mereka tumpangi dan selanjutnya dibawalah ke suatu pulau yg kami tidak kenali. “ kata Suri saat ditemui dikediamannya.

Lanjut Surianto mengatakan, Mereka tidak perna kasar. Selama kami dalam penyanderaan tidak ada tempat yangg menetap dan selalu berpindah pindah tempat. Menurut Suri, dirinya bersama 9 WNI lainnya selalu diberikan izin menjalankan sholat lima waktu.

” Selama disandera tidak ada tempat yang menetap, kita juga selalu sholat 5 waktu, mengenai cara sholatnya seperti halnya islam pada umumnya. Sementara makanan, terkadang 1 kali saja, kadang juga 2 kali dalam sehari. Apa yang mereka makan itu juga yang kita makan, kadang nasi kadang juga makan pakai mangga. Kalau tidurnya, ketika mereka tidur di tanah kita juga ikut tidur di tanah. Selama sebulan lebih tidak tempat menetap. Selalu pindah-pindah. Di hutang, kadang ada rumah kosong.” Ungkap Surianto

Surianto mengakui, dirinya tidak mengetahui yang mana dikatakan Abu Sayyaf. Pasalnya menurut Suri, mereka semua menggunakan
cadar.

” Saya juga tidak tahu yang mana bosnya dan yang mana anak buahnya. Mereka semua menggunakan cadar dan bersenjata lengkap. Ketika tertidur, keesokan harinya ketika melihat sinar matahari menyinari muka kami saat itu, kami kembali tersadar bahwa kami masih hidup. Buang air saja, kita di kawal ketat sama kelompok mereka. Buang air besar itu dengan cara digali terus di tutup kembali,” katanya

Surianto menceritakan, detik-detik dirinya dibebaskan. Kata Suri, pagi itu dirinya bersama 9 orang lainnya disuruh naik diklotok (Perahu) perjalanan sekira 5 jam sampai di pinggir laut, pada saat di pinggir laut sudah ada kereta yang menjemput kami. Terus kami dimuat dan di drop disalah satu pom bensin dan selanjutnya disuruh cari rumahnya Gubernur.

“Setelah di drop di pom bensin tersebut, terus yang antar kami pakai kereta tadi pergi meninggalkan kami. Jarak rumah gubernur dari pom bensin itu sekitar 5 sampai 10 meter. Di rumah gubernur tersebut kemudian kami diberikan makanan,”ungkapnya

Sementara kisah-kisah penyaderaan, Surianto mengakui, banyak tersiksa dirinya selalu teringat akan keluarga, isteri dan anaknya. Ditambahkannya, lepas penyaderaan tersebut meski agak trauma dirinya tetap akan berlayar kembali.

“Kami disandera sekitar sebulan lima hari, yang paling buat saya terharu ketika saya dikasih handphone, dan dikasih liat foto anak dan isteri saya. Pada saat itu saya menangis. Meski trauma itu pastinya ada, Insya Allah saya akan berlayar kembali. Saat ini kami masih berikan cuti,” tutupnya