Acara Aqiqah Cucu Keluarga Besar H. Murdaya
By: On:

Acara Aqiqah Cucu Keluarga Besar H. Murdaya

BERITA WAJO – Aqiqah Menurut bahasa, artinya memotong atau penyembelihan hewan qurban bagi anak yang baru lahir. Dan untuk diketahui bahwa Aqiqah asalnya ialah Rambut yang terdapat pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, dan rambut tersebut mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 ekor untuk bayi laki-laki dan 1 ekor untuk bayi perempuan.

Acara Aqiqah : Muh. Fais Rezki Faisal, Cucu H. Murdaya

Acara Aqiqah : Muh. Fais Rezki Faisal, Cucu H. Murdaya

Menurut pandangan dan syariat Islam Aqiqah sangat perluh dilakukan, hal itu berdasar dari berbagai pandangan dari para ulama, seperti misalnya pandangan dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata : Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata : Rasululloh bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” [Riwayat Bukhari]

Hukum Aqiqah Anak sendiri adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah adalah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

Untuk hewan Qurban sendiri yang harus dipilih dalam pelaksanaan acara Aqiqah tidak boleh kondisi hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan sakit atau hewan yang cacat.

Sementara Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW bersabda, “Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka pada hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Imam Malik berkata : Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar anjuran, maka sekiranya menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah cukup. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS.Al Baqarah:185)

Berdasar dari berbagai pandangang para alim ulamat, metode inilah yang diterapkan Keluarga Besar H. Murdaya pada pelaksanaan Aqiqah cucu kesayangannya itu. Pelaksanaannya itu ditempatkan di Swalayan Dwi Kartika tepatnya di Jl Andi Paggaru No .28 Sengkang. Jum’at 13 Februari 2015

H. Hartawan dan H. Murdaya

H. Hartawan dan H. Murdaya

Sanak keluarga dan kerabat terus berdatangan hendak melihat langsung serta memberikan selamat kepada keluarga besar H. Murdaya atas lahirnya cucuknya itu.

Secara bergiliran rambut si Bayi di cukur dan rambut yang sudah dicukur di simpan disuatu wadah yang berisikan air kelapa. Metode tersebut dilakukan agar sibayi kelak tumbuh dan diberikan keselamatan serta senantiasa apa yang keluar dari ucapannya ibarat air kelapa yang dapat menghilangkan dahaga.

Hj. Tawa : Mappenrojojang

Hj. Tawa : Mappenretojang

Aqiqah merupakan adat istiadat orang tua dulu turun temurun hingga sekarang, makanan bermacam – macam yang dihidangkan termasuk agar kelak nantinya si bayi tumbuh dan mampu mencari nafka untuk kelangsungan hidupnya kelak.

Disamping itu dengan adanya Al`Qur`an juga diharapkan anak kelak nantinya tumbuh dan mampu mengamalkan segalah ayat suci yang ada di dalam Al`Qur`an.

” Iyye ini adalah acara Mappenretojang nak,” terang Hj Tawa”

Untuk diketahui syukuran aqiqahan ini sangat kental dengan makna penyelamatan lingkungan dan pesan moral agar melihat dalam perspektif jangka panjang sampai lintas generasi, bukan berfikir secara instan sehingga kelahiran sebuah generasi baru tidak merusak atau membebani alam sekaligus menjaga tradisi gotong royong dan memelihara kekerabatan.

Kedua Orang Tua Muh. Fais : Muh. Faisal Saputra dan Hj. Dewi Selviana

Kedua Orang Tua Muh. Fais : Muh. Faisal Saputra dan Hj. Dewi Selviana

Pada acara Aqiqah sendiri juga terdapat beberapa ritual dan sejumlah barang yang harus disediakan yang menjadi simbol dan doa bagi masa depan bayi. Dalam acara aqiqahan, bibit kelapa tersebut dihias dengan indah dan ditaruh dalam kamar bayi. Beras yang ditaruh dalam baskom juga dihias dengan bentuk kepala manusia, serta sejumlah telur rebus siap saji.

Bayi yang baru lahir juga disediakan dua ekor ayam yang masih usia muda dan sebutir telur ayam. Ayam merupakan binatang yang bisa berkembang biak dengan cepat dan memiliki nilai gizi yang sangat bagus. Untuk mengenalkan diri dengan binatang, saat prosesi aqiqah, dahi bayi dan ibunya disentuhkan dengan ayam-ayam tersebut.

Keluarga Besar H. Murdaya : Muh. Faisal Saputra dan Hj. Dewi Selviana

Keluarga Besar H. Murdaya : Muh. Faisal Saputra dan Hj. Dewi Selviana

Selain itu disediakan pula sebuah kelapa muda yang dibuka dan airnya digunakan untuk membasahi gunting guna memotong rambut sang bayi. Kelapa muda melambangkan sebuah kesegaran, kemudaan, dan kesehatan yang diharapkan selalu menyertai kehidupan anak yang dilahirkan tersebut. Sebelas lilin kecil merupakan simbol agar kehidupannya selalu diliputi jalan terang.

Dua potong gula merah juga disediakan sebagai simbolisasi agar kehidupan anak tersebut selalu manis, menyenangkan, dan penuh kegembiraan. Ditambah pula dengan dua buah pala yang berisi pengharapan agar bayi tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia akan selalu ada ketika orang lain membutuhkannya.

Tak ketinggalan, sebuah tasbih dengan sebuah cincin emas yang dicelupkan ke air kemudian disentuhkan di dahi menunjukkan agar ajaran agama selalu menjadi pegangan dalam seluruh kehidupannya. Untuk menambah suasana, dinyalakan pula dupa untuk wewangian dalam prosesi potong rambut bayi yang dilakukan oleh dukun bayi terlatih yang telah membantu merawat bayi.

Bagi dukun bayi, mereka diberi sedekah berupa 12 macam jenis kue yang ditaruh dalam satu nampan, 8 liter beras dan uang 20 ribu rupiah yang dibawa pulang setelah prosesi tersebut selesai.

Belaian Kasih Sayang Muh. Fais Reski Faisal pada Ibunya Hj. Dewi Selviana

Belaian Kasih Sayang Muh. Fais Rezki Faisal pada Ibunya Hj. Dewi Selviana

Ari-ari yang merupakan bagian tubuh bayi saat dilahirkan menjadi bagian penting. Setelah dicuci, ari-ari tersebut ditanam dengan harapan agar bayi tersebut selalu ingat akan kampung halaman dimana ia dilahirkan.

Pembacaan barasanji atau syair barzanji juga umum diselenggarakan pada aqiqahan. Pada acara tersebut rambut bayi dipotong dan ada pula pembagian minyak wangi kepada jamaah yang membacakan syair-syair pujian kepada Rasulullah.